Pov : Aca
Sepuluh, sembilan, delapan. Entah mengapa aku semakin bosan. Rutinitas yang sebenarnya bisa membuat waktu berlalu lebih cepat. Namun tetap saja seperti ada yang kurang, seperti ada yang salah juga. Pernikahan sudah terjadi, rumah tangga mulai berjalan dari bulan ke bulan.
Kalian mungkin terkejut dengan cerita selanjutnya. Dan ya, rumah tangga ku lebih banyak rumitnya. Lucu sebenarnya, awal menikah kami berbincang, lebih tepatnya aku bergumam dengan suamiku. "Setiap rumah tangga pasti ada ujiannya ya Mas. Ada ujian orang ketiga, keuangan. Kira-kira kalau kita nanti apa ya Mas?" Aku baru mengerti definisi orang ketiga tidak selalu tentang selingkuh dengan pasangan lalu hadirlah orang ketiga. BUKAN!
Aku tidak terlalu ingat bulan ke berapa. Bulan ketiga atau ke empat. Aku bilang, ingin berpisah. Alasan yang aku katakan hanya bagaikan anak yang tidak dibelikan permen lolipop oleh suamiku. Lalu merajuk, itu katanya. Semakin aku katakan alasannya, semakin kerdil hati ku. Ternyata pikiran ku hanya luapan emosi yang berlebihan, itu katanya.
Aku dengan sifat tidak suka memendam sesuatu apapun, mengamati dan melihat sejauh mana aku bertoleransi. Nampak penurut padahal bukan. Aku menahan diri saja. Dan ya, sekalinya aku mengatakan apa yang ku rasakan, justru terlihat kurang ajar dan kurang pengertian.
Komentar
Posting Komentar