KEBIMBANGAN POV : Aca Suram. langit padahal terik cerah tapi semua terasa gelap, suram. Aneh memang di saat seseorang yang akan menikah bereuforia dan bahagia. Aku justru masih di landa dilema. Aku merasa, apa aku benar dengan keputusan ku? Tapi sungguh, aku sudah muak di oper bak sepak bola hanya karena agar aku bisa segera menikah dengan seseorang. Ku pikir, jika keluarga ku memilihkan pria itu artinya Dia yang terbaik untuk ku. Yang terpenting agamanya baik, bukan? Walau aku masih belum toleran soal komunikasi. Bagaimana tidak? Dia seperti mampu tidak berkomunikasi dengan ku lama sekali. Aku pikir kembali, mungkin Dia sereligius itu, jadi wajar Dia tidak intens berkomunkasi dengan ku. Positif thinking. "Belum nikah aja secuek ini, apalagi kalau dah nikah, Ca? yakin kamu kuat nerima nya nanti?" Teman ku menambah kekesalan ku. Aku abaikan perkataannya. Terus terang, ada yang bilang, kalau kita bisa mengajukan beberapa petanyaan sebelum menikah dan itu boleh-boleh saja. Se...