KEBIMBANGAN
POV : Aca
Suram. langit padahal terik cerah tapi semua terasa gelap, suram. Aneh memang di saat seseorang yang akan menikah bereuforia dan bahagia. Aku justru masih di landa dilema. Aku merasa, apa aku benar dengan keputusan ku? Tapi sungguh, aku sudah muak di oper bak sepak bola hanya karena agar aku bisa segera menikah dengan seseorang.
Ku pikir, jika keluarga ku memilihkan pria itu artinya Dia yang terbaik untuk ku. Yang terpenting agamanya baik, bukan? Walau aku masih belum toleran soal komunikasi. Bagaimana tidak? Dia seperti mampu tidak berkomunikasi dengan ku lama sekali. Aku pikir kembali, mungkin Dia sereligius itu, jadi wajar Dia tidak intens berkomunkasi dengan ku. Positif thinking.
"Belum nikah aja secuek ini, apalagi kalau dah nikah, Ca? yakin kamu kuat nerima nya nanti?" Teman ku menambah kekesalan ku. Aku abaikan perkataannya.
Terus terang, ada yang bilang, kalau kita bisa mengajukan beberapa petanyaan sebelum menikah dan itu boleh-boleh saja. Seperti contoh tentang keuangan, stabil atau masih punya tanggungan, hutang, soal prinsip, keperibadian, hal-hal seperti ini boleh di tanyakan. Tapi jujur aku masih takut bertanya.
Saat aku berhadapan dengannya, Dia tampak normal, baik, halus ketika berkata-kata, menatap mata ku dengan hangat, dan tampal dewasa. Saat bertemu 3 kali, pertama kali untuk bertemunya, kedua kali untuk bertemu keluarganya dan ketiga lamaran, aku menyimpulkan sebenarnya Dia tidak se agamis itu.
Dan jika kalian tahu, di pertemuan kedua kami, setelah di antarkan pulang, aku menangis sesegukkan. Aku tak tahu penyebabnya. Keluarganya menerima ku dengan baik. Tapi sungguh, ada rasa sedih yang aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku merasa tidak siap menikah dengannya.
Komentar
Posting Komentar